Pada masa silam, selain dikenal sebagai daerah penghasil udang, wilayah Cirebon merupakan sentra penghasil gula di Jawa Barat. Banyak pabrik gula didirikan pada masa kolonial Belanda karena tanah di wilayah ini cocok untuk dijadikan perkebunan tebu. Ini sebabnya pada masa itu perusahaan-perusahaan KA dan trem seperti Staatsspoorwegen (SS) dan Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS) membangun dan mengoperasikan jalur KA dan trem yang cukup masif di Cirebon dan sekitarnya terutama untuk moda angkutan industri gula. Banyak lintas cabang dibangun untuk menghubungkan pabrik-pabrik gula dengan jalur utama, meski juga digunakan untuk angkutan orang.

Seiring waktu, masa kejayaan industri gula telah surut. Satu demi satu pabrik gula ditutup dan saat ini hanya sedikit sekali yang masih beroperasi. Angkutan penumpang di lintas cabang pun makin susut kalah bersaing dengan angkutan jalan raya. Akibatnya jelas, jalur-jalur KA lintas cabang tersebut dipandang tidak ekonomis dan ditutup yang umumnya dilakukan di tahun 80-an. Di Cirebon dan sekitarnya, kini banyak dijumpai jalur KA yang sudah nonaktif dan berada di wilayah kerja PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (KAI Daop 3) Cirebon.

Perawatan, pengamanan, dan pemanfaatan aset-aset jalur nonaktif di wilayah tersebut menjadi tanggung jawab KAI Daop 3 Cirebon. Pada tanggal 18 dan 19 November 2015, KAI Daop 3 Cirebon mengadakan kegiatan observasi dan pemantauan aset di beberapa jalur KA nonaktif di wilayah kerjanya  dengan mengajak serta tim Kereta Anak Bangsa. Jalur yang diobservasi adalah Jatibarang-Karangampel dan Jatibarang-Indramayu serta Mundu-Sindanglaut-Ciledug-Bedilan.

Selama pelaksanaan observasi, tim Kereta Anak Bangsa aktif melakukan identifikasi dan dokumentasi aset di jalur nonaktif tersebut, yang hasilnya kemudian disusun dalam bentuk tulisan dokumenter sejarah dan profil jalur KA nonaktif di wilayah Cirebon dan sekitarnya.

Yang Terkait

Previous Next
Close
Test Caption
Test Description goes like this