Hampir seluruh jaringan perkeretaapian di Indonesia adalah peninggalan masa kolonial Hindia Belanda. Namun demikian, meski masa pendudukannya di Indonesia relatif singkat, hanya sekitar 3,5 tahun, pemerintah militer Jepang sempat membangun jalur KA di bumi nusantara. Adalah jalur KA Muaro-Pekanbaru sepanjang 220 km di Riau-Sumatera Barat dan Saketi-Bayah sepanjang 89 km di Banten, yang dibangun oleh penguasa militer Jepang. Keduanya adalah jalur untuk angkutan batubara. Masa pendudukan Jepang di Indonesia adalah masa perang dunia kedua. Jepang membutuhkan sumber energi yang bisa segera tersedia untuk menggerakkan mesin perangnya dan untuk industri pendukungnya. Dan batubara adalah jawabannya.

Romusha. Ini adalah tenaga kerja paksa di masa pendudukan militer Jepang dan sudah barang tentu, keberadaannya tidak terpisahkan dengan jalur-jalur KA angkutan batubara yang dibangun. Romusha lah tenaga kerja yang dikerahkan untuk membangunnya, tak hanya untuk jalurnya tetapi juga untuk  pertambangan batubaranya. Demikian besar jatuhnya korban jiwa Romusha, sehingga jalur-jalur itu disebut Jalur Maut (Death Railway).

Jalur KA Saketi-Bayah telah lama nonaktif, terakhir beroperasi sekitar tahun 1950-an. Romusha pun jika masih ada yang hidup tentu sudah sangat renta. Untuk menggali kembali riwayat sejarah jalur ini dan mendokumentasikan aset peninggalan bersejarah yang masih tersisa serta untuk kepentingan pengamanan aset, PT Kereta Api Indonesia (Persero)/KAI berinisiatif mengadakan kegiatan Napak Tilas Jalur Nonaktif Saketi Bayah bekerjasama dengan Kereta Anak Bangsa dan Sahabat Museum pada tanggal 21-22 September 2015.

Kereta Anak Bangsa secara aktif membantu persiapan dan pelaksanaan kegiatan ini, mulai dari survei, persiapan materi, memandu kegiatan kunjungan obyek peninggalan bersejarah serta forum diskusi dan silaturahmi serta berbagai pengetahuan tentang riwayat dan profil jalur Saketi-Bayah. Obyek yang dikunjungi meliputi bekas Stasiun Saketi, bekas emplasemen Stasiun Malingping dan Bayah, bekas pondasi jembatan KA di Cilangkahan, Sukahujan, Cisiih dan di tepi Samudera Hindia serta hutan karet yang merupakan bekas pertambangan batubara Gunung Madur dan bekas pondasi jembatannya.

Saat forum diskusi, hadir pimpinan kecamatan dan tokoh masyarakat setempat serta kasepuhan Bayah yang berbagi kisah masa lampau, kondisi terkini dan harapan di masa depan terkait bila jalur KA Saketi-Bayah diaktifkan kembali.

Yang Terkait

Previous Next
Close
Test Caption
Test Description goes like this